"MODEL
PEMBELAJARAN TEMATIK"
(CONNECTED MODEL)
Makalah oleh:
Ade Sri Madona, M.Pd
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pembelajaran Tematik
Peserta
didik pada Sekolah Dasar yang duduk di kelas-kelas awal (kelas I, II & III)
berada dalam rentangan usia dini. Pada usia dini, seluruh aspek perkembangan
kecerdasan anak (IQ, EQ dan SQ) tumbuh dan berkembang sangat luar biasa cepat
sehingga usia ini sering disebut usia emas (golden age) dalam perkembangan
anak.
Dalam
aspek perkembangan kognitif (berdasarkan teori/tahap perkembangan kognitif
Piaget), menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam
menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya. Menurutnya, setiap
anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata, yaitu sistem konsep yang
ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap berbagai obyek yang ada
dalam lingkungannya. Pemahaman tentang obyek tersebut berlangsung melalui
proses asimilasi (menghubungkan obyek dengan konsep yang sudah ada dalam
pikirannya) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep dalam pikiran untuk
menafsirkan obyek). Proses belajar anak tidak sekedar menghafal konsep-konsep
dan fakta-fakta, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk
menghasilkan pemahaman yang lebih utuh. Belajar dimaknai sebagai proses
interaksi dari anak dengan lingkungannya. Sejalan dengan tahapan perkembangan
dan karakteristik cara anak belajar tersebut,maka pendekatan pembelajaran siswa
SD kelas-kelas awal adalah pembelajaran tematik.
B. Rumusan Masalah
1) Jelaskan pengertian pembelajaran
terpadu!
2) Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis
model pembelajaran tematik beserta kelemahan dan keunggulannya!
3) Jelaskan pentingnya nilai-nilai islam dalam pembelajaran
tematik!
BAB
II
PEMBAHASAAN
A. Pengertian Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran
terpadu merupakan suatu model pembelajaran yang mencoba memadukan beberapa
pokok bahasan. Salah satu diantaranya adalah memadukan pokok bahasan atau sub
pokok bahasan atau bidang studi, keterangan seperti ini disebut juga dengan
kurikulum (DEPDIKBUD, 1990: 3). Secara umum pembelajaran terpadu pada
prinsipnya terfokus pada pengembangan perkembangan kemampuan siswa secara
optimal, oleh karena itu dibutuhkan peran aktif siswa dalam proses pembelajaran.
Melalui pembelajaran terpadu siswa dapat pengalaman langsung dalam proses
belajarnya, hal ini dapat menambah daya kemampuan siswa semakin kuat tentang
hal-hal yang dipelajarinya.
B. Jenis-jenis model pembelajaran
tematik beserta kelemahan dan keunggulannya
1) Model terkait (Connected model)
a. Pengertian
Tokoh yang mengembngan model
connected adalah Robert Maynard Hutchins. Model Keterhubungan ini lahir dari
adanya gagasan bahwa sebenarnya dalam setiap mata pelajaran berisi konten yang berkaitan
antara topik dengan topik, konsep dengan konsep dapat dikaitkan secara
eksplisit. Satu mata pelajaran dapat memfokuskan sub-sub yang saling berkaitan.
Pembelajaran terpadu model
keterhubungan (connected model) menurut Fogarty adalah : “model focuses on
making explicit connections with each subject area, connecting one topic to the
next, connecting one concept to another, connecting a skill to relatied skill,
connecting one day’s work to the next, or even one semester’s ideas to the
next”. Pengertian tersebut menunjukkankan bahwa fokus model connected adalah
pada keterkaitan dalam seluruh bidang, keterkaitan antar topik, keterkaitan
antar konsep, keterkaitan antar keterampilan, mengaitkan tugas pada hari ini
dengan selanjutnya bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu semester dengan
ide-ide yang dipelajari pada semester berikutnya dalam satu bidang studi.
Model pembalajaran ini menyajikan
hubungan yang eksplisit di dalam suatu mata pelajaran yaitu menghubungkan satu
topik dengan topik yang lain, satu konsep ke konsep yang lain, satu
keterampilan dengan keterampilan yang lain, satu tugas ke satu tugas yang
berikutnya. Pada pembelajaran model ini kunci utamanya adalah adanya satu usaha
sadar untuk menghubungkan bidang kajian dalam satu disiplin ilmu.
Bila kita memandang konsep
koneksi ini, rincian dari satu disiplin ilmu terfokus kepada bagian-bagian yang
sebenarnya saling berhubungan. Sehingga akan terjadi serangkaian materi satu
menjadi prasarat materi berikutnya atau satu materi mendukung materi berikutnya,
atau materi satu menjadi prasarat atau berhubungan sehingga apa yang dipelajari
menjadikan belajar yang bermakna. Sebagai catatan kaitan antar konsep, topik,
atau tema terjadi hanya pada satu mata pelajaran.
Pembelajaran
yang di lakukan dengan mengaitkan suatu pokok bahasan berikutnya.
Mengaitkan satu konsep dengan konsep lain, mengaitkan satu ketrampilan dngan
ketrampilan lain (Trianto 2007)
b.
Keunggulan dan kelemahan
a) Keunggulan
1. Siswa siswi memiliki gambaran secara
menyeluruh tentang suatu konsep
2. Siswa dapat mengembangkan konsep
secara terus menerus
3. Konsep-konsep kunci di kembangkan
dengan waktu yang cukup sehingga lebih mudah di cerna oleh siswa
4. Kaitan-kaitan dengan sejumlah
gagasan di dalam satu bidang study memungkinkan siswa untuk dapat
mengkonseptualisasi kembali
5. Model pembelajaran ini tidak
mengganggu kurikulum yang sedang berlangsung
6. Dampak positif dari mengaitkan
ide-ide dalam satu bidang studi adalah siswa memperoleh gambaran yang luas
sebagaimana suatu bidang studi yang terfokus pada suatu aspek tertentu.
7. menghubungkan ide-ide dalam suatu bidang studi sangat memungkinkan
bagi peserta didik untuk mengkaji, mengkonseptualisasi, memperbaiki, serta
mengasimilasi ide-ide secara terus menerus sehingga memudahkan untuk terjadinya
proses transfer ide-ide dalam memecahkan masalah.
8. adanya hubungan antar ide-ide dalam satu mata pelajaran, anak akan
memperoleh gambaran yang lebih jelas dan luas dari konsep yang dijelaskan dan
peserta didik diberi kesempatan untuk melakukan pedalaman, tinjauan,
memperbaiki dan mengasimilasi gagasan secara bertahap.
Hadisubroto, dalam Trianto mengemukakan
keunggulan dan kelemahan model keterhubungan (connected). Keunggulan dari model
ini adalah
a.
Dengan adanya hubungan atau
kaitan antara gagasan di dalam satu bidang studi, peserta didik-peserta didik
mempunyai gambaran yang lebih komprehensif dari beberapa aspek tertentu mereka
pelajari secara lebih mendalam
b.
Konsep-konsep kunci
dikembangkan dengan waktu yang cukup sehingga lebih dapat dicerna oleh peserta
didik
c.
Kaitan-kaitan dengan sejumlah
sasaran di dalam satu bidang studi memungkinkan peserta didik untuk dapat
mengkonseptualisasi kembali dan megasimilasi gagasan secara bertahap
d.
Pembelajaran terpadu model
keterhubungan tidak mengganggu kurikulum yang sedang berlaku.
b) Kelemahan
1. Masih kelihatan terpisahnya
interbidang study
2. Tidak mendorong guru untuk bekerja
tim, sehingga isi pelajaran tetap terfokus tanpa merentangkan konsep- konsep
serta ide- ide antar bidang study
3. Dalam memadukan ide-ide pada satu
bidang study, usaha untuk mengembangkan keterhubungan antar bidang study
menjadi terabaikan
4. model ini belum memberikan gambaran yang menyeluruh karena belum
menggabungkan bidang-bidang pengembangan/mata pelajaran lain.
c.
Kapan Kita Menggunakan Model Connected?
Model
ini digunakan sebagai permulaan kurikulum terpadu. Guru merasa percaya diri
mencari keterhubungan dalam mata pelajaran mereka (jika guru bidang studi).
Mereka menjadi mau mengadaptasikan hubungan ide-ide dalam mata pelajaran yang
menyeberang. Pembuatan keterhubungan juga diselesaikan secara kolaborasi dalam
pertemuan guru (departement meeting) dalam hal ini dalam kegiatan Kelompok
Kerja Guru (KKG) yang dapat terjadi lebih famillier. Guru dapat memulai model
ini sebelum memasuki keterpaduan yang lebih kompleks.
Contoh:
·
Guru menghubungkan/menggabungkan konsep
matematika tentang uang dengan konsep jual beli, untung rugi, simpan pinjam,
dan bunga.
·
guru menghubungkan konsep
pecahan dengan desimal, dan pecahan dengan uang, tingkatan, pembagian, rasio,
dan sebagainya
d. Langkah-Langkah (Sintaks)
Pembelajaran Terpadu Model Keterhubungan (Connected)
Pada dasarnya langkah-langkah
pembelajaran terpadu model keterhubungan mengikuti tahap-tahap pembelajaran
yang sudah biasa, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi.
Oleh karena itu, sintaks model pembelajaran ini bisa direduksi dari berbagai
model pembelajaran. Dengan demikian, sintaks pembelajaran terpadu bersifat
fleksibel dan luwes. Karena dalam pembelajaran terpadu, sintaksnya dapat
diakomodasi dari berbagai model pembelajaran.
1. Tahap Perencanaan
a.
Memilih kajian materi, standar
kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator yang akan dipadukan
b.
Merumuskan Indikator Hasil
Belajar
c.
Menentukan langkah-langkah
pembelajaran
2. Tahap Pelaksanaan
3. Tahap Evaluasi
Sementara itu, menurut Prabowo dalam
Trianto, langkah-langkah pembelajaran terpadu model Keterhubungan (connected)
adalah sebagai berikut:
1.
Tahap Perencanaan
a.
Menentukan Kompetensi Dasar
b.
Menentukan Indikator Menentukan
Tujuan Pembelajaran
2.
Langkah-Langkah yang ditempuh guru
a. Menyampaikan konsep pendukung yang harus dikuasai peserta didik.
(materi prasyarat)
b. Menyampaikan konsep-konsep yang hendak dikuasai peserta didik
c. Menyampaikan keterampilan proses yang dapat dikembangkan.
d. Menyampaikan alat dan bahan yang akan digunakan / dibutuhkan.
e. Menyampaikan pertanyaan kunci.
3.
Tahap Pelaksanaan, meliputi
a. Pengelolaan kelas dengan membangi kelas kedalam beberapa kelompok.
b. Kegiatan proses.
c. Kegiatan pencatatan data.
d. Diskusi secara klasikal
4.
Tahap Evaluasi, meliputi :
a. Evaluasi Proses, berupa :
•
Ketepatan hasil pengamatan
•
Ketepatan dalam menyusun alat
dan bahan
•
Ketepatan peserta didik saat
menganalisis data.
b. Evaluasi Produk
•
Penguasaan peserta didik
terhadap konsep-konsep / materi sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus yang
telah ditetapkan.
c.
Evaluasi Psikomotor
•
Kemampuan penguasaan peserta
didik terhadap penggunaan alat ukur.
e. Contoh
Aplikasi Model Keterhubungan dalam Pembelajaran di SD
Implementasi pembelajaran terpadu model Connected dikembangkan dalam
bahasa dan sastra Indonesia secara terpadu di Sekolah Dasar. Di dalam
pembelajaran bahasa dan sastra secara terpadu, yaitu pembelajaran kemampuan
berbahasa yang meliputi aspek mendengarkan, aspek berbicara, aspek membaca dan
aspek menulis dipayungkan kepada pembelajaran apresiasi sastra.
1. aspek mendengarkan: mengidentifikasi unsur cerita rakyat yang
didengarnya
2. aspek berbicara: memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi, dan
ekspresi yang tepat
3. aspek membaca: menyimpulkan isi cerita dalam beberapa kalimat
4. aspek menulis: menulis dialog sederhana dua atau tiga tokoh dengan
memperhatikan isi serta perannya.
Adapun langkah-langkah pembelajaran yang dapat ditempuh (1) siswa
mendengarkan cerita dan mengidentifikasi unsur-unsur ceritanya, (2) siswa
membaca cerita dan menyimpulkan isi ceritanya, (3) siswa menulis dialog dua
atau tiga tokoh cerita sesuai dengan isi ceritanya, kemudian (4) siswa berlatih
berbicara dengan memerankan tokoh ceritanya.
Selain
itu, penulis juga mengaitkan beberapa kompetensi dasar dari berbagai
keterampilan yang terkandung dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Untuk lebih
jelasnya, penulis menyajikan sebuah RPP Terpadu yang mengaitkan
keterampilan-keterampilan berbahasa. (terlampir)
DAFTAR RUJUKAN
Majid, Abdul. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung:
Remaja Rosdakarya

No comments:
Post a Comment