Tuesday, 8 July 2014

KONSEP TEMATIK, DAN PENDEKATAN SCIENTIFIC

MATERI PELATIHAN PLPLG
KONSEP TEMATIK, PENDEKATAN SCIENTIFIC, DAN PENILAIAN AUTENTIK

A. KOMPETENSI
Peserta pelatihan dapat:
   1. mendeskripsikan konsep pembelajaran tematik terpadu;
   2. mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran tematik terpadu;
   3. mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar;
   4. menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL, KI, dan KD;
   5. menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi;
   6. menguasai secara utuh materi, struktur, dan pola pikir keilmuan materi pelajaran;
   7. menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ilmu lain serta kehidupan sehari-hari; dan
   8. memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran.

B. LINGKUP MATERI
   1. Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu
   2. Konsep Pendekatan Scientific
   3. Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran
   4. Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian,Kecukupan, dan Kedalaman Materi)

C. INDIKATOR
  1. Menerima konsep pembelajaran tematik terpadu dan menghargai pendapat orang lain.
  2. Menjelaskan konsep pembelajaran tematik terpadu.
  3. Menjelaskan pemetaan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran tematik terpadu.
  4. Menjelaskan keterkaitan antara jaringan tema, silabus, RKH, dan RPP.
  5. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain.
  6. Menjelaskan konsep pendekatan scientific.
  7. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran tematik terpadu.
  8. Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/madrasah dan menghargai
      pendapat orang lain.
  9. Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.
  10. Menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL, KI, dan KD secara teliti dan serius.
  11. Mengidentifikasi kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL, KI, dan KD.
  12. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa.
  13. Menganalisis kesesuaian proses, pendekatan belajar, serta strategi evaluasi yang
        diintegrasikan dalam buku.
  14. Menjelaskan secara utuh materi, struktur, dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang
        terdapat dalam buku siswa.
  15. Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/
        ilmu lain serta kehidupan sehari-hari.
  16. Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran.

KONSEP PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU
                        DI SEKOLAH DASAR


A.   Pengantar
Proses pembelajaran untuk jenjang Sekolah Dasar atau yang sederajat menggunakan pendekatan pendekatan tematik.   Model  pembelajaran tematik terpadu  (PTP) atau integrated thematic instruction (ITI) dikembangkan pertama kali pada awal tahun 1970-an. Belakangan PTP diyakini sebagai salah satu model pembelajaran yang efektif (highly effective teaching model), karena mampu mewadahi dan menyentuh secara terpadu dimensi emosi, fisik, dan akademik di dalam kelas atau di lingkungan sekolah.  Model PTP ini pun sudah terbukti secara empirik berhasil memacu percepatan dan meningkatkan kapasitas memori peserta didik (enhance learning and increase long-term memory capabilities of learners) untuk waktu yang panjang.
Pembelajaran  tematik  terpadu  yang  sering  juga  disebut  sebagai         pembelajaran  tematik terintegrasi (integrated thematic instruction, ITI) aslinya dikonseptualisasikan tahun 1970-an. Pendekatan pembelajaran ini awalnya dikembangkan untuk anak-anak berbakat dan bertalenta
(
gifted and talented), anak-anak yang cerdas, program perluasan belajar, dan peserta didik yang belajar cepat.
Premis  utama PTP  bahwa  peserta  didik memerlukan peluang-peluang                        tambahan (additional opportunities) untuk menggunakan talentanya, menyediakan waktu bersama yang lain untuk secara cepat mengkonseptualisasi dan mensintesis.  Pada sisi lain, model PTP relevan untuk mengakomodasi  perbedaan-perbedaan  kualitatif  lingkungan  belajar. Model  PTP  diharapkan mampu menginspirasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar.
Model PTP memiliki perbedaan kualitatif (qualitatively different) dengan model pembelajaran lain,
karena sifatnya memandu peserta didik mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi (
higher levels



of thinking) atau keterampilan berpikir dengan mengoptimasi kecerdasan ganda (multiple thinking skills), sebuah proses inovatif bagi pengembangnan dimensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.


B.   Elemen-elemen Terkait dalam PTP
Implemementasi PTP menuntut kemampuan guru dalam mentransformasikan materi pembelajaran di  kelas.  Karena  itu  guru  harus  memahami  materi  apa  yang  diajarkan  dan  bagaimana mengaplikasikannya dalam lingkungan belajar di kelas. Oleh karena Model PTP ini bersifat ramah otak, guru harus mampu mengidentifikasi elemen-elemen lingkungan yang mungkin relevan dan dapat dioptimasi ketika berinteraksi dengan peserta didik selama proses pembelajaran. Ada sepuluh elemen yang terkait dengan hal ini dan perlu ditingkatkan oleh guru.
1.   Mereduksi tingkat kealpaan atau bernilai tambah berpikir reflektif.
2.   Memberkaya sensori pengalaman di bidang sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
3.   Menyajikan isi atau substansi pembelajaran yang bermakna.
4.   Lingkungan yang memperkaya pembelajaran.
5.   Bergerak memacu pembelajaran (Movement to Enhance Learning).
6.   Membuka pilihan-pilihan
7.   Optimasi waktu secara tepat
8.   Kolaborasi
9.   Umpan balik segera
10. Ketuntasan atau aplikasi


C.   Manfaat Pendekatan Tematik Terpadu
1.      Suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan. Suasana kelas memungkinkan semua orang
yang ada di dalamnya memiliki rasa mau menanggung resiko bersama. Misalnya, menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang tidak semestinya atau tidak benar tanpa harus menyinggung perasaan peserta didik. Prosedur-prosedur kerja keseharian, memastikan bahwa semua jadwal terprediksi, dan menjamin peserta didik merasa aman selama berada di kelas maupun di luar kelas.  Keterampilan hidup dikenali, didiskusikan dan dipraktikkan oleh peserta didik dengan interaksi yang tepat dan dengan perasaan yang menyenangkan dalam komunitas ruang kelas.
2.      Menggunakan  kelompok  untuk  bekerjasama,  berkolaborasi,  belajar  berkelompok,  dan
memecahan konflik sehingga mendodong peserta didik untuk memecahkan masalah sosial dengan saling menghargai.
3.      Mengoptimasi lingkungan belajar sebagai kunci dalam menciptakan kelas yang ramah otak
(brain-friendly classroom).  Aktivitas belajar melibatkan subjek belajar secara langsung, mengoptimasi  semua  sumber  belajar,  dan  memberi  peluang  peserta  didik  untuk mengesplorasi materi secara lebih luas.
4.      Peserta didik secara cepat dan tepat waktu mampu memproses informasi. Proses itu tidak
hanya menyentuh dimensi kuantitas, namun juga kualitas dalam mengeksplorasi konsepkonsep baru dan membantu peserta didik siap mengembangkan pengetahuan.
5.      Proses pembelajaran di kelas memungkinkan peserta didik berada dalam format ramah otak.
6.      Materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru dapat diaplikasikan langsung oleh peserta
didik dalam konteks kehidupannya sehari-hari.
7.      Peserta didik yang relatif mengalami keterlambatan untuk menuntaskan program belajar
memungkinkan mengejar ketertinggalanya dengan dibantu oleh guru melalui pemberian bimbingan khusus dan penerapan prinsip belajar tuntas.
8.      Program pembelajaran yang bersifat ramah otak memungkinkan guru untuk mewujudkan
ketuntasan belajar dengan menerapkan variasi cara penilaian.


D.   Tahap-tahap Pembelajaran Tematik  Terpadu
1.   Menentukan tema.
Tema dapat ditetapkan oleh pengambil kebijakan, guru, atau ditetapkan bersama dengan peserta didik.
2.   Mengintegrasikan tema dengan kurikulum.
Pada tahap ini guru harus mampu mendesain tema pembelajaran dengan cara terintegrasi sejalan dengan tuntutan kurikulum, dengan mengedepankan dimensi sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.
3.   Mendesain rencana pembelajaran.
Tahapan ini mencakup pengorganisasian sumber belajar, bahan ajar, media belajar, termasuk kegiatan ekstrakurikuler yang bertujuan untuk menunjukkan suatu tema pembelajaran terjadi dalam kehidupan nyata. Misalnya, pembelajaran di kelas yang didasarkan atau diperkaya hasil karya wisata, kunjungan ke museum, dan lain-lain.
4.   Melaksanakan Aktivitas Pembelajaran.
Tahapan ini memberi peluang peserta didik untuk mampu berpartisipasi dan memahami berbagi persepektif dari suatu tema.  Hal ini memberi peluang bagi guru dan peserta didik melakukan eksplorasi suatu pokok bahasan.


E.  Prinsip-prinsip Pembelajaran Tematik Terpadu
1.      Tema hendaknya tidak terlalu luas dan dapat dengan mudah digunakan untuk memadukan
banyak bidang studi, mata pelajaran, atau disiplin ilmu.
2.      Tema yang dipilih dapat memberikan bekal bagi peserta didik untuk belajar lebih lanjut.
3.      Tema disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik.
4.      Tema harus mampu mewadahi sebagian besar minat anak,


CONTOH PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC
DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU
A. Pengantar
         Memasuki Tahun 2013 akan segera diberlakukan pembelajaran Tematik Terpadu bagi peserta didik
mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI. Pembelajaran dimaksud adalah dengan menggunakan
Tema yang akan menjadi pemersatu berbagai mata pelajaran.
Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu
menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran
sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan,
menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran. Untuk mata pelajaran, materi, atau
situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara
prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilainilai
atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. Pendekatan ilmiah
pembelajaran antara lain meliputi langkah-langkah pokok
1. Mengamati
2. Menanya
3. Menalar
4. Mencoba
5. Mengolah
6. Menyajikan
7. Menyimpulkan dan
8. Mengkomunikasikan
Langkah-langkah tersebut tidak selalu dilalui secara berurutan, terlebih pada pembelajaran Tematik
Terpadu, dimana pembelajarannya menggunakan Tema sebagai pemersatu. Sementara setiap mata
pelajaran memiliki karakteristik keilmuan yang antara satu dengan lainnya tidak sama. Oleh karena
itu agar pembelajaran bermakna perlu diberikan contoh-contoh agar dapat lebih memperjelas
penyajian pembelajaran dengan pendekatan scientific.

B. Pendekatan ilmiah dalam Pembelajaran Tematik Terpadu
         Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa pembelajaran Tematik Terpadu merupakan suatu
penyajian pembelajaran yang menyatukan beberapa mata pelajaran dengan Tema sebagai
pemersatunya. Sementara karakteristik keilmuan dari setiap materi pelajaran tidaklah sama maka
HO – 2.2-2
khusus untuk penyajian pembelajaran dapat disajikan langkah dalam pendekatan ilmiah sebagai
berikut:
1. Mengamati
       Dalam penyajian pembelajaran, guru dan peserta didik (Kelas I Sekolah Dasar) perlu memahami
apa yang hendak dicatat, melalui kegia
jenjang Sekolah Dasar, maka pengamatan akan lebih banyak menggunakan media gambar, alat
peraga yang sedapat mungkin bersifat kontekstual. Berikut contoh
didik diajak mengamati ga
Apakah termasuk rumah yang bersih, dan apa syaratnya atau kriterianya rumah yang sehat.
Dengan mengamati gambar, peserta didik akan dapat secara langsung dapat menceritakan kondisi
sebagaimana yang di tuntut dalam kompetensi dasar dan indikator, dan mata pelajaran apa saja
yang dapat dipadukan dengan media yang tersedia. Kegiatan apa yang harus dilakukan dengan
kondisi rumah yag diamati.

2. Menanya
       Peserta didik yang masih duduk di apabila tidak dihadapkan dengan media yang menarik. Guru yang efektif seyogyanya mampu
menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan,
dan pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau
memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta
didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar
yang baik.
Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyata, pertanyaan dimaksudkan untuk
memperoleh tanggapan verbal. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”,
melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan
verbal. Dengan media gambar peserta didik diajak bertanya jawab
dilakukan peserta didik agar rumah dan lingkungannya menjadi bersih dan sehat
membedakan rumah yang bersih dan yang tidak bersih. (Eksploras
Bentuk pertanyaan, misalnya: Apakah ciri
kegiatan pengamatan. Mengingat peserta didik masih dalam
Tema Kegiatanku
gambar, kemudian mereka diajak mengidentifikasi, tentang ciri
agaimana kelas I Sekolah Dasar tidak mudah diajak bertanya jawab
erbeda kegiatan apa saja yang harus
Eksplorasi)
ciri-ciri rumah yang sehat?
tan Kegiatanku. Peserta
mbar, ciri-ciri rumah.
tanggapan
sekaligus
Pada saat siswa mengamati dan menjawab pertanyaan guru, maka sudah memadukan dan
mengakomodasi mata pelajaran Bahasa Indonesia, (untuk aspek mendengarkan, dan
berbicaranya, membaca gambar serta menulis hasil identifikasi ciri-ciri rumah bersih dan sehat).
Bagi peserta didik yang masih duduk di kelas I Sekolah Dasar yang belum lancar membaca tulisan
akan diganti dengan membaca gambar. Sedangkan konten yang yang sedang dibahas merupakan
substansi dari mata pelajaran Bahasa Indonesia/di dalamnya memuat IPA. Lebih lanjut dapat
dipadukan dengan mata pelajaran Matematika tentang bangun datar dan bangun ruang.

3. Menalar
       Apabila dikaitkan dengan contoh yang disajikan diatas, maka Istilah “menalar” dalam kerangka
proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 adalah untuk
menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu
dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah
proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk
memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah,
meski penalaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat.
Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating; bukan merupakan terjemanan dari
reasonsing, meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Karena itu, istilah aktivitas
menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak
merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam
pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan
beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama
mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan
peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan
berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai
asosiasi atau menalar. Dari perspektif psikologi, asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas
konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan antara pikiran atau kedekatan dalam ruang
dan waktu. (Eksplorasi dan Elaborasi)
Peserta didik akan mengamati dan mengerjakan tugas dari guru dengan cara memberikan tanda
cek ( √ )

4. Mencoba
       Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau
melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran
Bahasa Indonesia, (Kelas I SD/MI) misalnya, peserta didik harus memahami kon
yang ada di dalam Bahasa Indonesia dan kaitannya dengan kehidupan sehari
pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam
sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmi
masalah-masalah yang dihadapinya sehari
Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah
tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata
untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut
tuntutan kurikulum; (2) mempelajari cara
harus disediakan; (3) mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil
sebelumnya; (4) melakukan dan mengamati percobaan; (5) mencatat fenomena yang terjadi,
menganalisis, dan menyajikan data; (6) menarik simpulan atas hasil percobaan; dan (7) membuat
laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan. (Eksplorasi dan elabora
Contoh:
Peserta didik bisa diajak berdiri di tengah lapangan untuk mencoba dan mempraktekkan apakah
bayang-bayang tubuh manusia bisa berjalan?
sehari-hari.
cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan
konsep-konsep IPA
sehari-hari. Peserta didik
ilmiah untuk memecahkan
hasil-hasil eksperimen
elaborasi)
Dan pada pukul berapa bayang-bayang manusia menyatu dengan tubuh manusia?

5. Mengolah
        Pada tahapan mengolah ini peserta didik sedapat mungkin dikondisikan belajar secara
kolaboratif. Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif
atau manajer belajar, sebaliknya, peserta didiklah yang harus lebih aktif. Jika pembelajaran
kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah peribadi, maka ia menyentuh tentang identitas
peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang lain atau guru.
Dalam situasi kolaboratif itu, peserta didik berinteraksi dengan empati, saling menghormati, dan
menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. Dengan cara semacam ini akan tumbuh
rasa aman, sehingga memungkinkan peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tuntutan
belajar secara bersama-sama. Peserta didik secara bersama-sama, saling bekerjasama, saling
membantu mengerjakan hasil tugas terkait dengan materi yang sedang dipelajari (Kegiatan
Elaborasi).
Hasil tugas dikerjakan bersama dalam satu kelompok untuk kemudian dipresentasikan atau
dilaporkan kepada guru

6. Menyimpulkan
       Kegiatan menyimpulkan merupakan kelanjutan dari kegiatan mengolah, bisa dilakukan bersamasama
dalam satu kesatuan kelompok, atau bisa juga dengan dikerjakan sendiri setelah
mendengarkan hasil kegiatan mengolah informasi.

7. Menyajikan
       Hasil tugas yang telah dikerjakan bersama-sama secara kolaboratif dapat disajikan dalam bentuk
laporan tertulis dan dapat dijadikan sebagai salah satu bahan untuk portofolio kelompok dan atau
individu. Yang sebelumnya di konsultasikan terlebih dulu kepada guru. Pada tahapan ini
kendatipun tugas dikerjakan secara berkelompok, tetapi sebaiknya hasil pencatatan dilakukan
oleh masing-masing individu. Sehingga portofolio yang di basukkan ke dalam file atau Map
peserta didik terisi dari hasil pekerjaannya sendiri secara individu.

8. Mengkomunikasikan
      Pada kegiatan akhir diharapkan peserta didik dapat mengkomunikasikan hasil pekerjaan yang
telah disusun baik secara bersama-sama dalam kelompok dan atau secara individu dari hasil
kesimpulan yang telah dibuat bersama. Kegiatan mengkomunikasikan ini dapat diberikan
klarifikasi oleh guru agar supaya peserta didik akan mengetahui secara benar apakah jawaban
yang telah dikerjakan sudah benar atau ada yang harus diperbaiki. Hal ini dapat diarahkan pada
kegiatan konfirmasi sebagaimana pada Standar Proses.

C. Penutup
Pendekatan ilmiah atau scientific dalam pembelajaran Tematik Terpadu akan semakin bagus apabila
dilakukan secara alami, mengalir begitu saja, kontekstual dan terkait dengan pengalaman hidup
sehari-hari peserta didik. Langkah-langkah dalam pendekatan ilmiah seperti dijelaskan di atas tentu
saja harus dijiwai oleh perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan,
gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai
bagian dari solusi atas berbagai permasalahan sehari-hari yang pada muaranya akan berdampak
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan
sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.